Ibadah Yang Bisa Mengurangi Pajak

Judul diatas saya pilih karena sebagai manusia yang beriman kiranya perlu agar dalam beribadah ada ketenangan dari adanya kewajiban membayar pajak. Apakah ada ibadah yang bisa mengurangi kewajiban individu dalam membayar pajak? Pasti ada jawabannya.

Tapi solusi ini hanya berlaku untuk wajib pajak orang pribadi, jadi WP Badan, maaf-maaf kate ye (*logatnya si kardun) masih belum ada triknya.

Ibadah disini saya tidak dikhususkan ke satu agama saja, tapi peraturannya berlaku secara umum, karena menggunakan perspektif hukum. Dan ibadah disini juga yang terkait dengan uang alias amal, alias zakat, sumbangan dsb 🙂

Jika kita baca di PP Nomor 60 Tahun 2010

Pasal 1  

(1) Zakat atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto meliputi:  a. zakat atas penghasilan yang dibayarkan oleh Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah; atau  b.sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi Wajib Pajak orang pribadi pemeluk agama selain agama Islam dan/atau oleh Wajib Pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama selain agama Islam, yang diakui di Indonesia yang dibayarkan kepada lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh Pemerintah.

Saya maknai zakat atau sumbangan keagamaan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Dengan kata lain, sebelum penghasilan saya kenakan PTKP maka saya bisa kurangkan dengan zakat atau sumbangan keagamaan terlebih dahulu jadi nanti yang dikenakan tarif pajakpun ikut turun jumlahnya. Jika bingung silahkan lihat SPT Tahunan PPh OP 1770/1770S di halaman induk/depan berikut ini

Induk 1770

 

dari hitungan di atas jelaslah, bahwa zakat bisa mengurangi penghasilan kena pajak sebelum dikalikan dengan tarif pajak penghasilan. Sekarang bagaimana kalau ada diantara pembaca yang sangat dermawan sehingga berulang kali menyumbang hartanya ke lembaga yang hampir mencapai 25% dari total hartanya, apakah semua sumbangan bisa diakui sebagai pengurang penghasilan? Jawabannya adalah hanya 2.5% dari keseluruhan bruto. Misalkan pembaca menyumbang Rp.10.000.000 dan ada bukti dokumennya semua, tetapi hanya boleh dimasukkan 2.5%nya saja dari nilai tersebut atau hanya Rp.250.000 sebagai isian di SPT.

Kemudian pertanyaan berikutnya, apakah semua jenis sumbangan agama bisa dikurangkan di SPT? jawabannya adalah tidak, di  UU Nomor 17 Tahun 2000, untuk Indonesia sumbangan keagamaan yang diakui sebagai pengurang hanyalah zakat penghasilan (di islam dikenal sebagai zakat maal yang memang besarnya 2.5% dari harta).

Pertanyaan terakhir, dimana saya bisa membayar zakat penghasilan/sumbangan agar bisa diakui dalam SPT? Pembaca bisa lihat di PER-33/PJ/2011 yang mengatur lebih lanjut bahwa zakat atau sumbangan hanya bisa mengurangi penghasilan bruto bila dibayarkan melalui lembaga/badan berikut yang telah disahkan pemerintah melalui Menteri Keungan, yaitu:

  1. Badan Amil Zakat Nasional
  2. LAZ Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
  3. LAZ Dompet Dhuafa Republika
  4. LAZ Yayasan Baitul Maal Bank Rakyat Indonesia
  5. LAZ Yayasan Amanah Takaful
  6. LAZ Yayasan Baitul Maal wat Tamwil
  7. LAZ Pos Keadilan Peduli Umat
  8. LAZ Baituzzakah Pertamina
  9. LAZ Yayasan Baitulmaal Muamalat
  10. LAZ Dompet Peduli Umat Daarut Tauhiid (DUDT)
  11. LAZ Yayasan Dana Sosial Al Falah
  12. LAZ Yayasan Rumah Zakat Indonesia
  13. LAZ Baitul Maal Hidayatullah
  14. LAZIS Muhammadiyah
  15. LAZ Persatuan Islam
  16. LAZIS Nahdlatul Ulama (LAZIS NU)
  17. LAZ Yayasan Baitul Mal Umat Islam PT Bank Negara Indonesia
  18. LAZIS Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (LAZIS IPHI)
  19. LAZ Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat
  20. Lembaga Sumbangan Agama Kristen Indonesia (LEMSAKTI)

Jika ada kesalahan link ke situsnya mohon dikoreksi ya ;D

Jika ada pembaca yang yang berminat menyumbang/zakat jangan lupa nanti bukti sumbangan/zakatnya disimpan dan nantinya dilampirkan dalam SPT Tahunan PPh OP, seperti kalau ada bukti potong.

Yang harus dicermati juga bagi karyawan yang penghasilannya dari satu pemberi kerja, dalam kondisi normal SPTnya kan nihil jadi kalau ditambah pengurang berupa zakat/sumbangan maka secara matematis kan menjadi lebih bayar/LB. Kondisi seperti seperti mengingatkan saya pada seorang teman, ketika saya tanya kenapa tidak melampirkan bukti zakat di SPTnya, dia menjawab “Ah.. nanti malah jadi LB dong, lagian pajak masih kecil dikurangi zakat malah jadi lebih kecil lagi nantinya”

Ah memang lagi-lagi kembali ke hati nurani (bukan kampanye lho), kalau zakat memang untuk menambah harta setelah mati, kalau pajak untuk mengurangi harta sebelum mati.

 

Terserah pembaca dan terima kasih 🙂

Daftar Lembaga Resmi Penerima Zakat/Sumbangan Keagamaann PER-15-PJ-2012

Tags:,

4 Comments

  1. Abdul Munir Mar 8, 2014
    • Dwi Utomo Mar 13, 2014
  2. irfan Jul 21, 2013
    • Dwi Utomo Jul 21, 2013

Tinggalkan komentar Anda disini..

Dukung Blog Ini!

Dengan Klik salah satu tombol dibawah ini