Pajak 1% ? Saatnya Anda Tahu! PP 46 Tahun 2013 – Apakah Saya Wajib Kena? (2)

Apa yang dikenai pajak/objek pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013?

  • Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak dengan peredaran bruto (omzet) yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun pajak.

Lebih detail objeknya?

  1. peredaran bruto (omzet) merupakan jumlah peredaran bruto (omzet) semua gerai/counter/outlet atau sejenisnya baik pusat maupun cabangnya.
  2. Usaha meliputi usaha dagang dan jasa, seperti misalnya toko/kios/los kelontong, pakaian, elektronik, bengkel, penjahit, warung/rumah makan, salon, dan usaha lainnya.

Berapa tarifnya?

  • Pajak yang terutang dan harus dibayar adalah 1% dari jumlah peredaran bruto (omzet)

Siapa yang dikenai pajak/subjek pajak  berdasarkan PP 46 Tahun 2013?

  • Orang pribadi
  • Badan, tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT),

Inti subjek pajaknya ?

  1. Yang menerima penghasilan dari usaha dengan peredaran bruto (omzet) yang tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 (satu) Tahun Pajak.
  2. Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender kecuali bila Wajib Pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.

Siapa yang tidak dikenai pajak berdasarkan PP 46 Tahun 2013? (Non Subjek Pajak)

  • Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang menggunakan sarana yang dapat dibongkar pasang dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum. misalnya pedagang keliling, pedagang asongan, warung tenda di area kaki-lima,  dan  sejenisnya.
  • Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4,8 miliar.

Apa yang dimakud beroperasi secara komersial?

  • Saat melakukan produksi, saat ada transaksi komersial/pemasukan uang

Bagaimana Ilustrasi Saat Beroperasi Komersial?

Secara garis besar memang WP sampai dengan saat mulai beroperasi masih dikenai tarif umum PPh, dan jika jangka waktu 1 tahunnya berada di tengah tahun maka diteruskan sampai dengan akhir tahun pajak.

Misalnya jika mulai beroperasi 1 Agustus 2013 maka sampai dengan 31 Juli 2014 (dan diteruskan hingga akhir tahun pajak) mendapat kelonggaran untuk menggunakan tarif umum. Kemudian apakah tahun 2015 menggunakan tarif umum atau final, dilihat dari omset bulan Januari sampai Desember 2014 (hal ini dituangkan di dalam SE-42).

PP Nomor 46 TAHUN 2013 dan PMK-107/PMK.011/2013 memang tidak mendefinisikan “beroperasi secara komersial”, jadi ada 2 opsi, bagi yang melakukan penyerahan jasa atau perdagangan, terjadi pada saat melakukan penjualan. Kemudian di Contoh Penghitungan Angka 5 Lampiran PMK-107/PMK.011/2013 untuk yang industri, dimulai ketika melakukan produksi.

Contoh lainnya

Jika mulai beroperasi pada 25 Februari 2012, maka 1 tahun SMB-nya jatuh pada 24 Februari 2013. Karena 1 tahun sejak mulai beroperasinya ini tidak melewati masa berlaku PP Nomor 46 TAHUN 2013 (1 Juli 2013), maka seharusnya untuk menentukan pengenaan pajaknya menggunakan ketentuan Pasal 10 PP Nomor 46 TAHUN 2013, yaitu melihat peredaran bruto tahun 2012 yang disetahunkan.

Berbeda halnya jika WP mulai beroperasi 1 November 2012. Karena 1 tahun sejak beroperasinya (31 Oktober 2013) melewati masa berlaku PP Nomor 46 TAHUN 2013, maka pengenaan pajaknya mengikuti ketentuan Pasal 7 PMK-107/PMK.011/2013. Hal ini memang tidak disebutkan dalam PP Nomor 46 TAHUN 2013, PMK-107/PMK.011/2013, maupun SE-42/PJ/2013. Jadi, jika ada WP menanyakan masalah tersebut sebaiknya meminta penegasan ke KPP.

Apa Penghasilan Yang Tidak Termasuk Dalam Akumulasi Bruto 4,8M/ penghasilan yang tidak dikenakan pajak 1%?

  • Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3);
  • Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri;
  • Usaha yang atas penghasilannya telah dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan tersendiri; dan
  • Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak.

FAQs aka TJ

T: Bang, yang dimaksud 1 tahun pajak sebagai dasar/objek pajak saat ini tahun berapa?

J: Untuk tahun pajak 2013 berarti yang dilihat adalah omset tahun lalu (Tahun buku 2012), jika omset Anda tahun 2012 kurang dari 4,8 M maka Anda perlu wajib PPh Final 1% dan Anda mulai bayar 1% sejak masa Juli 2013

T: Jadi kalau omset usaha saya tahun 2012 hanya 4 Miliar saya mulai Juli 2013 setor 1% ya?

J: Benar bung, karena masih < dari 4,8 miliar rupiah dalam 1 tahun pajak

T: Bang, saya mulai buka usaha sejak Mei 2013, hingga akhir Juni omset saya Rp. 600.000.000, apa di masa Juli saya pakai tarif 1%.

J: Gini itungannya, harus disetahunkan dulu.
Omset 2 bulan (Mei-Juni 2013) = Rp. 600.000.000
Omset disetahunkan =Rp600.000.000 x 12/2 = Rp.3.600.000.000 (3,6 miliar )
Karena masih dibawah 4,8 miliar jadi harus pakai tarif 1% final

T: Bang, saya juragan es cendol, punya gerai ada 5, berikut data omset masing-masing gerai 2012
Gerai es cendol A: Omset 2012 = Rp. 600.000.000
Gerai es cendol B: Omset 2012 = Rp. 900.000.000
Gerai es cendol C: Omset 2012 = Rp. 800.000.000
Gerai es cendol D: Omset 2012 = Rp. 800.000.000
Gerai es cendol E: Omset 2012 = Rp. 900.000.000
Untuk tahun 2013 ini saya wajib PPh Final 1% atau tidak? Lokasi semua gerai di Indonesia

J: Berati total omset Saudara 2012 adalah 600jt+900jt+800jt+800jt+900jt=4 miliar rupiah
Saudara wajib setor 1% dari omset

T: Bang, saya pengusaha abon internasional. Ada 3 lokasi jualan abon saat ini, yaitu:
Lokasi I di Surabaya, omset 2012 Rp. 1,5 miliar
Lokasi II di Arab Saudi, omset 2012 Rp. 2 miliar
Lokasi III di Taiwan, omset 2012 Rp. 1,5 miliar
Berarti saya masih pakai aturan lama ya kan total omset sudah 5 miliar?

J: Omset di PP 46/2013 adalah akumulasi omset usaha domestik saja yang diakui, karena omset diluar negeri sudah dipungut pajaknya oleh otoritas pajak negara masing-masing sesuai P3B (Perjanjian Pajak-Pajak Berganda). Jadi omset tuan 2012 adalah dari lokasi I saja yang ada di Surabaya sebesar Rp 1,5 miliar dan tuan wajib PPh Final 1%

T: Tarif 1% itu dikalikan dengan omset yang mana pak?

J: 1 dikalikan dengan omset/peredaran bruto bulan berjalan,
contoh:Tahun 2012 omset bapak Rp400.000.000 dan otomatis wajib PPh Final 1% sejak di tahun 2013, dan ternyata di bulan Juli 2013 omset bapak sebesar Rp. 50.000.000 maka untuk yang disetorkan di SSP Masa Juli 2013 adalah Rp50.000.000 x 1% =Rp.500.000 (lima ratus ribu)

Kredit tambahan ilustrasi: tanyajawabpajak.com

Download PMK-107/PMK.11/2013

Download lampiran PMK-107/PMK.11/2013

Download SE-42/PJ/2013

241 replies
« Older Comments
  1. Memey
    Memey says:

    Pak saya ingin tanya, bagaimana jika pendapatan yg saya terima didalamnya termasuk PPN? Misal :
    Harga Perolehan : Rp 1.000.000.000
    PPN : Rp 100.000.000
    Jumlah yg saya terima : Rp 1.100.000.000
    Dari data diatas berarti saya harus setor PPN sebesar 100jt. Kemudian unk tarif 1% dari omset saya dikenakan dari nominal 1M atau 1.1M Pak?
    Terima Kasih

    Balas

Trackbacks & Pingbacks

« Older Comments

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *