Pajak 1% ? Saatnya Anda Tahu! PP 46 Tahun 2013 –Tanya Jawab? (4)

Alhamdulillah ini artikel penutup untuk seri PPh Final 1% atas omset tertentu. Mumpung masih ada waktu sebelum lebaran, kali ini saya akan rangkumkan beberapa pertanyaan yang bisa jadi referensi.

Semua tanya jawab ini saya dapatkan dari membaca PP 46 tahun 2013, dari sosialisasi yang diadakan Direktorat Jenderal Pajak, diskusi di kantor dan dari slide presentasi yang sebelumnya pernah saya bagi dan jika belum punya bisa unduh disini.
Oke, langsung aja ya dan silakan berdiskusi disini.
T: Untuk lapor SPT Masa PPh Final 1% apakah harus menggunakan formulir SPT Masa PPh 5 ayat (2)?
J: Tidak perlu menggunakan formulir SPT PPh 4 ayat (2). Setelah disetor dengan SSP atau melalui billing system pastikan setoran Anda sudah valid, caranya lihat saja apakah sudah diberi nomor NTPN atau belum. Tata cara lapornya masuh sama dengan membawa lembar 3 SSP PPh Final dan menyampaikannya di kantor pajak terdekat, jika Anda menggunakan pembayaran pajak via online maka secara otomatis struk atau bukti setor yang diterima sudah menjadi pengganti lembar 1 dan 3 SSP. Dan bisa disampaikan ke kantor pajak. Prinsipnya untuk pajak angsuran bulanan, jika setoran Anda sudah divalidasi dengan NTPN maka setoran Anda sudah masuk di kas negara, jadi tidak wajib menyampaikan SSP namun tetap dibolehkan untuk memyampaikan SSP angsuran ( PPh 25 ataupun PPh Final 1%), yang penting bukti setor yang ada NTPNnya sudah ada pegang sebagai arsip.
T: Apakah saya perlu mengulang setoran dari Januari- Juni 2013 dan menggantinya dengan kode PPh Final, biar seragam nanti untuk 1 tahun buku?
J: Tidak perlu (pendek amat yak 😀
T: Saya baru melaporkan 3 bulan saja untuk angsuran PPh 25 (Jan-Mar 2013),sementara tahun 2012 omset saya hanya 1 miliar jadi apakah perlu untuk masa april-juni 2013 saya setor 1% atau lanjut saja dengan angsuran PPh 25?
J: Karena PP 46 mulai berlakunya 1 juli 2013, maka masa april-juni 2013 tetap menggunakan angsuran PPh 25 dan mulai masa Juli 2013 menggunakan tarif 1%.
T: Apakah PPh final 1% ini harus menggunakan aplikasi e-SPT seperti PPN?
J: Sampai saat ini belum ada peraturan yang mewajibkan penggunaan e- SPT untuk angsuran PPh Final 1%, jadi masih manual, hanya cara bayarnya saat ini bisa dengan online.

Posted from WordPress for Android

56 replies
  1. rini
    rini says:

    selamat malam pak.

    saya ada usaha agen dari salah satu ekspedisi. dan saya memiliki npwp cv.

    yang mau saya tanyakan apakah saya perlu lagi melaporkan spt pajak cv (statusnya kantor pusat sudah potong 2% dari tiap komisi perbulannya)?

    apakah benar saya bisa urus ke kantor pajak untuk mengubahnya menjadi 1%?

    dan apakah saya bisa tidak melaporkan pajak spt cv ini tiap tahunnya? soalnya khan sudah dibayarkan juga oleh pusat perbulannya.

     

    terima kasih

    Balas
  2. Adelia
    Adelia says:

    Selamat siang .. mau nanya cara hitung total Omzet dari mana ?

    Jika Pph 21 = 1.050.000 , DPP : 251,298,901 , PPN : Rp. 25,129,890

    Soalnya Yang hitung omzet bukan saya , saya hanya memberi data jumlah DPP & PPN saja .. Terimakasih

    Balas
  3. anton
    anton says:

    Pak Dwi maaf mau nanya, untuk tarif pajak PP 46 apakah berlaku untuk semua jenis usaha. termasuk jasa travel & tour yang mana usahanya menjual tiket pesawat dan hotel? kan margin nya kecil pak untuk menjual tiket pesawat.
    terima kasih atas penjelasannya

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Khusus untuk agen tiket dan koperasi simpan pinjam, 1%-nya terutang atas komisi tiket dan bunga dari anggota koperasi. Aturannya saya lupa nomornya Pak Anton, tapi ada penegasan tersendiri.

      Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Salam Kurnia
      Omsetnya bisa dicari dengan menghitung DPP PPN, DPP PPN = PPN : 10% = 167.020.000. Dengan demikian pajak UKM-nya 1% x DPP PPN= 1.670.200

      Balas
  4. Wita
    Wita says:

    Pak Dwi mau tanya : PP 46 berlaku mulai Juli 2013. mengacu pada omzet tahun sebelumnya. Jika ada perusahaan yang berdiri Jan 2014. Tidak membayar PPH 1% ataupun cicilan PPh 25. Omzet selama 2014 dibawah 4.8M.
    Saat mengisi SPT Badan, menggunakan tarif 1% atau tarif pasal 17 ?
    Karena Accounting yang lama mengisi SPT Badan 2014 dengan menghitung pajak menggunakan tarif pasal 17, sehingga terhutang PPh 29. Kalau ternyata salah . Seharusnya, menggunakan pajak final 1%, apakah harus dilakukan pembetulan ? Karena kalau buat pembetulan maka Kurang Bayarnya menjadi lebih besar.

    Balas
  5. iman
    iman says:

    Pak, agak bingung nih mohon dijawab ya..
    Saya baru daftar NPWP bulan april 2015 ini. Saya usaha bisnis buku secara online, tidak ada karyawan. Krn baru bbrp bulan, selama ini omset masih di bawah 2jt per bulannya. Bahkan ada yg 1 bulan omset nol.

    Apakah saya sudah wajib langsung membayar pajak 1% ini? Atau menunggu 1 tahun dulu atau baru juli 2015 nanti? Maaf krn saya agak bingung..
    Jika omset 0 / nihil apakah saya tetap lapor ke kantor pajak atau saya tidak perlu lapor? Baru lapor nanti begitu ada omset..
    Jika omzet di bulan ini di bawah 500rb apa tetap harus dibayar 1% nya?
    Jika saya telat melapor (setelah tgl 15) apakah kena denda, bunga atau bagaimana?
    Jika saya tidak melapor apa NPWP saya akan dicabut atau bagaimana?

    Terima kasih atas infonya.. Webnya sangat bermanfaat sekali..

    Balas
  6. jonson hp
    jonson hp says:

    Siang . Pa. Dwi. Saya mau tanya, Bagaimana tentang Pembayaran Pajak Penjualan Tiket Pesawat, dimana di Tiket Pesawat sudah di kenakan pajak di dalam Harga Tiket Pesawat tsb .
    Apakah masih tetap membayar pajak dari omzet penjualan tiket? sedangkan komisi dari tiket rata-rata 3%, Contoh. Jika harga 1 tiket rata-rata 700 ribu (jika 1 bulan ada 300 tiket ) maka omzet 700.000 x 300 = 210.000.000 . Maka Pajak 1% x 210.000.000= 2.100.000 . sedangkan Margin hanya 4.100.000. Maka Pajak ini sangat besar sekali.
    Mohon Pejelasannya.
    Thanks

    Balas
  7. Aspari
    Aspari says:

    AssWW Bos . Sy mau tanya pengisian SPT. 1770 yang bentuk SPT Tahunannya tidak mengakomodir PP 46 – 2013

    Kami sudah melunasi perpajakannya dg bayar Final yg 1 %. PP 46 2013 ( hanya itu ) dan tak punya pekerjaan lain selain pedagang pengecer (( Klu 52326 )

    Bagaimana cara pengisian SPT 1770 nya. Apakah dikosongkan saja dan langsung tanda tangan saja pada Halaman 1 , Lamp – I , II , III . Serta DaftarJlh Pengh – Pembay PPh 25.

    Terimakasih ya Bos

    Balas
  8. hadi
    hadi says:

    pak saya mau tanya untuk perhitungan pajak pribadi (dagang) maksudnya perhitungan 1% itu bagaimana? bagaimana perhitunganya apabila saya ingin menyetor pajaknya tahunan? bagaimana jika setelah dikurangi PTKP hasilnya nihil?
    mohon maaf terlalu banyak tanya, masih awam soal pajak 😀

    Balas
  9. aldebaran
    aldebaran says:

    Ass pak.. mohon kenal.saya ingin bertanya kalo wajib pajak orang pribadi sdh bayar pph pasal 4 ayat 2 pada bulan juli sejumlah 600rb.ternyata setelah di lakukan perhitungan kembali omsetnya lebih besar an kewajiban membyr pph itu seharusnya 1 jt.bgm caranya untuk membayar kekurangan pajak pph pasal 4 ayat 2 itu? Trimakasi

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Salam kenal pak Alde
      Segera setorkan lagi SSP dengan nilai sejumlah kekurangan PPh pasal 4 ayat 2 tsb sehingga khusus juli akan ada 2 SSP dengan jumlah sesuai dengan 1% dari omset riil juli.

      Balas
  10. vonny
    vonny says:

    Pak Dwi, mohon penjelasannya utk bbrp hal di bawah ini:
    1. pelaporan pajak tahunan UMKM ini menggunakan form apa? Kapan tgl pelaporannya? Maret kah?
    2. Bila usaha saya jual beli mobil bekas. Dr penjualan atas mobil tsb saya akan dikenakan pajak 1% kan pak? 3. Bgmn perlakuan pajaknya bila mobil yg saya jual adl mobil titipan? Jd saya dpt komisi + “margin” (bila sy bisa jual di hrg yg lbh tinggi dr yg diminta penitip).
    4. Pd form #1, di bagian mana saya hrs cantumkan penghasilan #2 & #3?

    Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Selamat pagi rekan Vonny

      1. Masih menggunakan form SPT tahunan seperti biasanya tergantung apakah itu badan, OP, karyawan
      2. Untuk mobil bekas pajaknya 1% dari bruto jualnya, untuk konsinyasi/titipan tentunya 1%x(fee + margin jika ada)
      3. Jika yang dimaksud SPT pribadi sebagai pengusaha mokas, bisa menggunakan 1770, di bagian 1770-III bag. A nomor 16

      Salam

      Balas
  11. saroh
    saroh says:

    jika di bln jan sampai des 2013 masi tetap menggunakan pph psl 25, itu masih boleh tidak?? tetapi omset kurang dari 4,8 M

    Balas
  12. saroh
    saroh says:

    jika dari januari sampai desember 2013, masih menggunakan pph 25, itu masi boleh tidak, tetapi omset kurang dari 4,8 M

    Balas
  13. herlina radjak
    herlina radjak says:

    malam pak dwi.. salam kenal ,mau tanya pemahaman yang lebih mudah dicerna sama otak saya tentang PPh pasal 4 (2),22,23,25,26,29 dan masing2 brp persen? maklum msh awam juga neeh klo baca kepanjangan hehe..thanks sebelumnya

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Pagi bu Lina
      Rasanya gak bisa dijawab singkat ini bu, secara mendasar sekali yg bisa saya sampaikan pengenaan pajaknya

      • PPh pasal 4 ayat (2) untuk penghasilan bersifat final seperti jual/sewa tanah /bangunan, PP 46 dsb
      • PPh 22, atas pengadaan barang dengan dinas dsb
      • PPh 23 atas pengadaan jasa dsb
      • PPh 25 adalah angsuran pajak bulanan
      • PPh 26 atas penghasilan karyawan asing
      • PPh 29 atas kurang bayar pajak tahunan

      Untuk tarifnya beragam bu misalkan pada PPh 4 (2) ada yg 10%, 5%, 1% tergantung usahanya. Jika ibu Lina adalah seorang pengusaha yg butuh pajak apa yg sesuai dengan usaha ibu adalah dengan datang ke KPP, temui AR-nya ibu ceritakan detil usaha maka akan kelihatan pajak apa saja yg perlu dibayar/lapor. Untuk bacaan ringan ibu bisa ke pajak.go.id pada kategori leaflet ada penjelasan singkat dari berbagai pajak disana

      Balas
  14. tri_y
    tri_y says:

    Pak Dwi saya terdaftar sebagai PKP bulan November 2013, bulan November saya ada Omzet 10.000.000, bulan desember tidak ada Omzet artinya saya harus kalikan 12= 120 jt(total Omzet), saya tergolong kategori terkena PPh 1 persen. yang jadi pertanyaan saya.
    1. Benarkah pada bulan Desember saya hanya bayar 100.000 ( terhitung Omzet bulan November 2013 hanya 10.000.000)
    2. Bagaimana untuk bulan Desember 2013, karena bulan tersebut tidak ada Omzet sama sekali, \
    apakah lapor ke KPP sebagai PPH nihil(tidak bayar pph final) ataukah saya harus tetap bayar 100.000.
    3. Bagaimana jika di bulan Januari 2014 ada Omzet 20.000.000, apakah dibulan Februari saya bayarnya Rp. 200.000(1 persen dr Omzet) ataukah saya tetap bayar Rp. 100.000 .

    Mohon dapat dibantu pak Dwi, karena sampai saat ini saya belum bayar PPH sama sekali, dikarenakan masih bingung dengan aturan baru tersebut.

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Sore pak Tri
      Pemahaman pak Tri udah bener kok

      1. iya 100.000 disetornya
      2. Nggak perlu setor dan nggak perlu lapor, kalaupun mau lapor juga boleh aja sih misalkan buat administrasi perusahaan
      3. Untuk Januari 2014 200.000
      Balas
  15. Monica
    Monica says:

    Permisi…numpang tanya…gmn sih cara menghitung kompensasi kerugian utk PPh 1%?
    Contoh kantor tempat saya bekerja mengalami kerugian selama bulan Jan-Jun’13 senilai Rp 200.000.000,-; total omzet 2013 < 4,8M; pd bulan Okt’13 ada penghasilan bruto sebesar Rp 100.000.000,-
    Tanpa adanya kompensasi berarti PPh 4(2) yg harus dibayar = 1% x Rp 100.000.000 = Rp 1.000.000
    Apakah Rp 1.000.000 tsb bisa dikompensasikan? Kl bisa, gmn cara hitung kompensasinya?
    Terima kasih sebelumnya.

    Balas
  16. ilham
    ilham says:

    SANGATTT MEMUASKAN.. SY IKUT BREVET G SEBANDING YANG SAYA DAPATKAN DENGAN MEMABACA TULISAN BAPAK HANYA DALAM HITUNGAN JAM.. MKSH YA.. SEMOGA DI BERI BERKAH ATAS KEBAIAKN BAPAK…AMINN.. SEHAT SELALU…

    Balas
  17. anto
    anto says:

    Ass wr wb pak mau bertnya pak…kridit pajak selama (pasal 25) th.2013 1.452.048 Pph yang harus dibayar sendiri 1.851.320 pasal 29 = 399.272 pasal 25 : 154.277
    pada kolom III dasar pengenaan pajak pasal 4 ayat 2 = 129.366.000 x 1% = 1.293.660 juli -des
    nah pertanyaannya yang harus dibayar kedepan th 2014 jan s/d des apakah 154.277

    Balas
    • Irfan Hartono
      Irfan Hartono says:

      Jika omzet tahun 2013 kemarin tak lebih dari 4,8 M, maka tak perlu lagi membayar PPh 25 di tahun 2014 ini. Pakai saja perhitungan 1% dari omzet bulanan.
      demikian

      Balas
  18. salby
    salby says:

    gan, saya mau tanya. perusahaan saya baru berdiri di bulan januari tahun 2013, dan terdaftar di pajak bulan februari menjadi pkp bulan maret, saya blm pernah bayar pph badan itu gmn ya..? trus kalau saya mau bayar pph badan 1% dari bulan juli – desember gmn cara nya.? gmn cara membuat spt tahunan nya?

    Balas
  19. YEye
    YEye says:

    siang, mohon dijelaskan format pelaporan (apa saja yg perlu dilampirkan)dan waktu pelaporan spt pph masa des,
    maaf soalnya masih awam tentang pajak
    trims

    Balas
  20. Mochammad RIyadi
    Mochammad RIyadi says:

    gan, mau nanya ni.
    kalau kita beli barang ke distributor. kita kan kena pajak 10% dari nilai barang.
    nah setelah itu kita jual barang yang kita beli tadi ke orang lain (konsumen kita). orang lain itu kena pajak juga 10% kan?. bsa gak si orang lain itu (konsumen) gak usah byar full pajak 10 persen, melainkan cukup bayar pajak 10persen dkurangi pembayaran pajak yang sudah kita bayarkan ke distributor tadi?
    sama mau nanya klo restitusi itu apa ya?

    Balas
    • Irfan Hartono
      Irfan Hartono says:

      Yoi gan, jadi gini….
      PPN itu sebenarnya yang nanggung adalah konsumen akhir. Jika sudah dikukuhkan sebagai PKP, maka pedagang/distributor hanya berperan sebagai pemungut, yaitu membantu negara untuk memungutkan PPN dari konsumen.
      Ilustrasinya begini… CV. Aura membeli barang seharga 100.000.000, bayar ke penjualnya senilai 100 juta plus dipungut PPN 10.000.000, jadinya 110.000.000.
      Lalu CV. Aura menjual lagi barang tersebut, semisal harga jualnya jadi 150.000.000, plus mungut PPN senilai 15.000.000.
      bagi CV. Aura, PPN 10.000.000 disebut sebagai Pajak Masukan. dan PPN 15.000.000 disebut Pajak Keluaran.
      selisih PK-PM inilah yang disetor oleh CV Aura ke negara.
      Demikian, semoga bisa diterima…

      Balas
  21. ratna
    ratna says:

    Salam… Saya masih bingung juga masalah PPN. Berarti intinya PPN itu kita bayar kalo qt sudah PKP (omzet > 600jt/tahun) ya Pak?
    Saya punya apotek yg omzetnya belum PKP. Tapi dari awal berdiri sudah bayar PPN untuk pembelian obat (lgsg di bayar dlm 1 faktur dengan faktur obat)
    Nanti kalo saya sudah PKP berarti bayar PPN nya double apa gmn?
    Trma ksh… 🙂

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Malam bu Ratna
      600jt itu patokan bagi WP jika sudah melebihi itu harus sudah mengajukan statusPKP. Tetapi jika masih belum melebihi itu boleh mengajukan status PKPdengan sukarela. Ketika apotek sudah PKP, maka punya hak untuk memungut PPN atas setiap penjualannya dan apotek juga berhak menerbitkan faktur pajak.

      Saat ini kan belum PKP, jadi saat aptek beli obat, nilai yg dibayar berarti nilai obat + 10%-nya untuk PPN penjual. Tapi saat apotek jual obat tidak boleh memungut PPn. Selama belum PKP ya tidak bayar PPN bu

      Monggo jika masih bingung

      Balas
  22. tari
    tari says:

    mau tanya doong..kalau perusahaan perorangan ..kemudian dia dilaporkan PPN masukannya..sementara dia belum PKP..skrng baru mau mendaftarkan sbgai PKP…yg ingin sy tanyakan apakah Faktur Pajak PPn ditahun2 sebelumnya diperhitungkan? sementara pengukuhan PKP nya baru saat ini?

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Siang mbak
      Ketika WP belum PKP, maka dia tidak punya hak untuk menerbitkan faktur pajak dan tidak berhak mengkreditkan pajak masukan dari lawan transaksi. Tetapi WP tersebut tetap harus menyetorkan PPN keluaran tapi PM-nya tidak bisa dikreditkan

      Gampangannnya PK-0=PPN kurang bayar
      Mulai bisa menerbitkan faktur pajak dan berhak mengkreditkan pajak masukan tentunya sejak tanggal pengukuhan di SK PKP-nya mbak

      Balas
  23. arin
    arin says:

    Selamat Siang pak Dwi,
    Pak,saya benar2 dibuat bingung dengan pajak…karena saya sangat awam mengenai pajak.
    mengenai pph pasal 4 ayat (2) itu 1% dari omset.cara hitung omset nya gimana ya pak?apakah DPP dari pajak keluaran atau gimana ya?

    Terima Kasih

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Malam bu Arin
      Omset tersebut adalah dari DPP-nya. Jika usaha ibu sudah berstatus PKP, tentunya bukan hanya DPP dari yang diterbitkan faktur saja yang dikalikan 1% tetapi termasuk DPP yang digunggung (penjualan tanpa faktur)

      Balas
  24. ipan nursyafa
    ipan nursyafa says:

    salam kenal pa’ Dwi

    saya mau tau gmn cara menghitung pph pasal 4 (2) dari:
    saya bekerja di perushaan pengantaran barang yang tagihan (invoice-nya) rata hanya sekitar 250jt/bln termasuk ppn, gmn cara itung pph pasal 4 (2)-nya pa? terimaksih.

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Salam kenal juga mas Ipan
      Perusahaan pengantaran barang ini apakah mirip seperti Tiki, JNE atau usaha perorangan/merk sendiri?

      Jika seperti Tiki, KCP dsb maka 1% atas fee yang diberikan kantor pusat. Tapi biasanya perusahaan seperti itu tidak wajib PP 46 karena omsetnya kemungkinan besar sudah > 4,8M

      Tetapi jika usaha mandiri, maka

      Keluarkan dulu PPN-nya untuk dapat DPP-nya 110/100*250jt= 227.272.727
      kemudian omset tersebut kalikan 1%= 2.272.727 sebagai setoran PP 46.

      Balas
      • Saha
        Saha says:

        Pak ada aturan yg jelas utk mengatur antara peredaran bruto agen,,karena AR di wilayah saya pedoman bruto adalah total omset bukan dr komisi

        Balas
        • Rezky Novrandi
          Rezky Novrandi says:

          izin belajar bersama gan

          saya berpendampat dengan Ar nay gan karean sudah di atur PP 46 DPP pph pasal 4 (2) adalah peredaran bruto

          kalau tahun sebelumnya agen rugi maka agen punya kewajiban untuk membuat surat bebas pemotong pajak dari pihak lain

          Balas
  25. Jaya
    Jaya says:

    Pak.
    Apa kabar?
    Apakah boleh saya buka PPN kepada pembeli apabila barang saya beli / dapat tanpa PPN?
    Terima Kasih
    Jaya

    Balas
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Alhamdulillah baik disini bang Jay 🙂
      Sepertinya bapak beli barang dari penjual yang belum berstatus PKP sehigga tidak ada PPN-nya (tidak ada pajak masukan) dan berencana menjualnya kembali. Tentu saja boleh, hanya saja jika bapak sudah PKP, maka atas pembelian tersebut tidak ada PPN masukan sementara untuk dijual kembali ada PPN keluaran, sehingga PPN kurang bayar bisa lebih besar karena pajak masukannya kecil

      Balas
      • Jaya
        Jaya says:

        Terima kasih banyak atas jawaban yang cepat.
        Bagaimana dengan pekerjaan jasa seperti pekerjaan design,
        Apakah saya (sudah PKP) tetap kenakan PPN 10% ke client saya?
        Thanks again.

        Balas
        • Dwi Utomo
          Dwi Utomo says:

          Pekerjaan bebas yang dikecualikan dari PP 46 adalah arsitek. Jika usaha bang Jay desain komunikasi visual misalnya, maka kena PP 46. Untuk PKP, atas penyerahan/penjualan (jasa) dikenakan PPN 10%..

          Balas
              • saroh
                saroh says:

                pa saya mau tanya, jika dari jan sampai des 2013 masih memakai pph psl 25 itu masi bisa ga?? tetapi omset kurang dari 4,8 M

                Balas
              • wahyu
                wahyu says:

                Jika perusahaan beroperasi bulan agustus 2014, maka untuk bisa tahu ikut PP 46 di lliat omzet tahun 2015.Jika di bawah 4,8 M maka di tahun 2016 masuk kategori PP 46.
                Untuk tahun 2015 kewajiban pajaknya ikut angsuran (PPh 25 dari perhitungan th 2014) atau manunggu tutup buku tahun 2015 baru dihitung pajaknya.
                terima kasih.

                Balas
                • Dwi Utomo
                  Dwi Utomo says:

                  Untuk menghitung angsuran PPh 25 tahun 2015 bisa dengan mengalikan 12 atas pendapatan dan biaya yg muncul di bulan 1/2015 dan mengalikanya dengan tarif PPh badan dan dibagi 12 hasilnya

                  Balas

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *