Nikmatnya Gulai Karaka

Pagi-pagi sekali istri mengajak saya pergi ke pasar untuk membeli ikan. Ikan sudah di depan lapak penjual, tetapi niat itu urung karena harganya yang mulai mahal. Lemahnya rupiah mulai menulari komoditi laut untuk ikut naik harganya. Setelah kami berunding, akhirnya diputuskan untuk membeli karaka. Nama umumnya adalah kepiting, di jawa timur (lumajang) binatang ini sering disebut yuyu atau empét. Setahu saya, yuyu itu hidupnya di air tawar seperti sungai, tapi gak tahu juga kalau empét itu yang mananya.

image

Karaka-dari pasar sampai masak

Karaka atau kepiting papua ini biasa hidup di bawah akar pohon bakau di pinggir pantai. Di Timika sendiri garis pantainya panjang dan ada beberapa pulau kecil disekitarnya. Kepiting yang dijual disini yang kecil ukuran badannya ada yang dari selebar telapak tangan orang dewasa hingga yang selebar piring makan. Satu ekor kepiting biasanya sudah diikat capitnya dengan tali rafia dan badannya dibungkus dengan daun pandan besar. Harganya bervariasi dari 10.000-30.000 per ekor. Jika ada pembaca yang main ke Timika, sempatkan beli 50.000 saja biasanya jika dimasak bisa jadi 2 panci kecil. Tetapi jika ingin membawa karaka hidup-hidup ke jawa, mintalah si penjual membungkusnya dengan kardus kedap air tapi juga tersedia ventilasi udara untuk nafas kepiting. Biasanya karaka tahan hidup di perjalanan selama 3 hari. Kebetulan saya bukan penggemar karaka, bukan karena takut kolesterol naik tetapi rasanya menurut saya biasa aja. Pendapat berbeda versi istri, gulai kepiting papua adalah seafood terenak yang pernah dia rasakan sampai saat ini.
Hmm.. pria punya selera

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan komentar Anda disini..

Dukung Blog Ini!

Dengan Klik salah satu tombol dibawah ini