SPT Tahunan Lebih Bayar Karena PP 46, Diperiksakah? (3 of 3)

Selamat hari senin siang pembaca semua. Ini artikel penutup dari artikel kedua kemarin. Kebetulan saja hari ini ada pengunjung (mas Otnay) nanya hal yang sama terkait LB pada SPT karena penerapan PP 46, isinya begini:

Khusus untuk WP yang memenuhi “kriteria tertentu berdasarkan PP 46 ini …. Apakah setelah WP diberikan pembayaran pendahuluan pajak  DIJAMIN tidak ditindaklanjuti dengan pemeriksaan?

Sebuah pertanyaan mendasar dan saya bisa paham keraguan di hati wajib pajak karena khawatir restitusi berbuntut pemeriksaan (ceilee..). Jawabannya ada di bawah, intinya bisa saja setelah pajak lebih bayar tersebut direstitusi kemudian suatu saat nanti diperiksa, namun tentu ada kondisi khusus yang mengharuskannya. Lagian kalau toh kita udah bener setor dan lapornya pastilah nggak ada masalah juga sekalipun diperiksa.

DJP DAPAT MELAKUKAN PEMERIKSAAN TERHADAP WP YANG TELAH DITERBITKAN SKPPKP

  1. Direktur Jenderal Pajak dapat melakukan pemeriksaan dalam rangka penerbitan SKP terhadap WP yang telah diterbitkan Surat Keputusan Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pajak. (Pasal 11 ayat (1) PMK-198/PMK.03/2013)
  2. Pemeriksaan ini dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan dibidang perpajakan yang mengatur mengenai pemeriksaan. (Pasal 11 ayat (2) PMK-198/PMK.03/2013)
  3. Jika berdasarkan hasil pemeriksaan Direktur Jenderal Pajak menerbitkan SKPKB, jumlah pajak yang kurang dibayar tersebut ditambah dengan sanksi administrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus persen) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17D ayat (5) UU KUP. (Pasal 11 ayat (3) PMK-198/PMK.03/2013)
  4. Dalam hal diterbitkan SKPKB, WP dapat mengajukan permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36 UU KUP. (Pasal 12 ayat (1) PMK-198/PMK.03/2013)
  5. Atas permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi ini, Direktur Jenderal Pajak dapat memberikan pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi sehingga besarnya sanksi administrasi menjadi paling banyak 48% (empat puluh delapan persen). (Pasal 12 ayat (2) PMK-198/PMK.03/2013)

 

 KETENTUAN PERALIHAN

  • Terhadap SPT pembetulan lebih bayar restitusi atas Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak, dan Tahun Pajak sebelum berlakunya PMK-198/PMK.03/2013 yang disampaikan sejak berlakunya PMK-198/PMK.03/2013 ini (berlaku sejak 1 Januari 2014), diproses berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam PMK-198/PMK.03/2013 ini; (Pasal 13 ayat (1) PMK-198/PMK.03/2013)
  • Terhadap permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak bagi WP yang memenuhi persyaratan tertentu yang belum diselesaikan pengembaliannya sampai dengan berlakunya PMK-198/PMK.03/2013 ini, diselesaikan berdasarkan PMK-193/PMK.03/2007 stdd PMK-54/PMK.03/2009. (Pasal 13 ayat (2) PMK-198/PMK.03/2013)

KLIK DISINI untuk download/unduh PMK-193/PMK.03/2007 stdd PMK-54/PMK.03/2009

Dengan sudah keluarnya PMK-198 rasanya WP tidak perlu lagi ragu untuk mengajukan restitusi, yang saya hadapi hingga saat ini adalah tidak semua wajib pajak mampu menyelengarakan pembukuan dengan baik, padahal komponen laporan keuangan itulah yang dibutuhkan sebagai bahan isian SPT. Silahkan mendatangi AR bapak/bu jika menemui kesulitan atau ingin dipandu untuk penyampaian SPT LB tahun ini, mumpung masih ada waktu 😀

7 replies
  1. Galau Deh
    Galau Deh says:

    Bakal panjang nih komennya, semoga berkenan dijawab.

    Mohon saran ya, saya ini galau. Form 1770S saya lebih bayar. Terjadi lebih bayar karena saya rutin membayar zakat via tempat2 yg sudah direstui Kemenkeu, pdhl sebagai PNS form 1721A2 saya udah langsung dipotong otomatis sama bendahara. Secara substansi saya gak takut sama pemeriksaan pajak, walau saya ga yakin 100% hitungan angka saya tepat, esp di bagian A lampiran 2 1770S bagian bunga tabungan, deposito, honor, dkk, krn hitungan saya rada kira2 disitu (gara2 males print out buku tabungan dll, but my defend is: hey, who doesn’t? Paling selisih berapa rupiah sih? Gak materiil juga, pajeknya final juga ga bisa saya tilep).

    Alasan yg kedua, bbrp th lalu saya ngurusin restitusi pajak ortu yg juga taat bayar pajak (gimana ga taat, orang langsung dipotong). Dan hampir dikerjain AR. Gak usah dibahas lah, pokoknya tuh AR gak profesional dan kurang pinter baca peraturan. Yg bikin trauma adalah saya harus bolak balik ke KPP, ngeprint ulang buku tabungan/rekening (yg perlembarnya sekian ribu rupiah), ngumpulin pembayaran listrik/langganan tv/koran, dan wadehel2 lainnya. Which is bikin kami sekeluarga trauma. Walau endingnya hepi ending, tetep aja kejadian itu bikin kami ngga mau lagi urusan ama kantor pajek. Iya kalo pas dapet AR yang bener spt kru amsyong, lha kalo’ ARnya aneh bin ajaib? Sebagai sesama amtenaar saya juga tahu lah kondisi SDM kita.

    Balik ke kegalauan saya ini, mana yg menurut teman2 di amsyong lebih baik? Saya cabut laporan zakat saya, jadi SPT saya nihil, kaya ga terjadi apa2 (negara juga ga rugi kan?) walau itu artinya laporan saya rada2 boong. Atau saya go on dengan lebih bayar, dengan resiko saya kudu siap2 ngeluarin duit lebih untuk kumpulin bukti2 transaksi keuangan saya tahun 2013, dan lebih repot (pake banget tentunya) serta resiko terbesar, ada kemungkinan saya kembali patah hati ngeliat kelakuan AR (yg berminggu2 bisa ngomong semena2 sebelum dia tahu siapa saya dan langsung ga berkutik waktu dia akhirnya tahu–sedih banget gak sih liat kelakuan kaya’ gitu?)

    Ditunggu sarannya ya. Tks.

    Reply
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Sebelum saya ngomen ini saya bingung manggilnya apa dulu yaa.. Oom ato Pak ato bu, mas atao mbak ato cyiinn..
      Iyah, jika bukti sumbangan keagamaan tsb sudah disetor dan sudah dapat bukti resminya maka dengan kata lain otomatis bisa dijadikan sebagai pengurang penghasilan neto fiskal, dalam kondisi si penyumbang murni karyawan maka hampir pasti jadi lebih bayar. Saya bilang “bisa” dijadikan pengurang karena itu bukan kredit pajak dan datanya mungkin DJP tidak bisa mengakses langsung ke database lembaga keagamaan.
      Mau lanjut LB atau nggak itu tergantung ke wajib pajaknya, tapi saya sarankan lanjut saja karena proses restitusi memang prosedurnya agak panjang tapi itu bukan jadi alasan, kecuali rekan sendiri sudah ikhlas dunia akhirat untuk tidak mengungkit-ungkit bukti sumbangan tsb.
      Well, saya nggak bisa mendikte idealisme rekan, karena lebih bayar sekecil apapun jika memang terbukti benar maka negara (DJP) harus mengembalikan hak tersebut sama juga ketika negara tahu ada kewajiban yg belum ditunaikan WP maka ya harus dipenuhi juga. 🙂

      Reply
  2. wandi
    wandi says:

    semoga pak dwi utomo dan para adm yg lainnya selalu di berkah dng ilmu yg melimpah dan selalu diberikan kesehatan , agar dapat selalu berbagi ilmu dng kami. Amiinnn

    saya mengucapkan banyak terima kasih atas sharing ilmu .

    Reply
  3. amin
    amin says:

    Bung Dwi,
    selamat pagi, mau tanya soal cara isi SPT tahunan 1770 yg bersangkutan dgn PPh Final dimana utk lap SPT tahun 2013 ini ada 2 jenis PPh dlm 1 lap SPT nya. pertanyaan sy :
    1. Bila sy sdh terlanjur setor PPh ps 25 bl jul & agt total sebesar = 2 jt ( seharusnya sesuai peraturan baru = PPh Final 1 % ) dan tdk lakukan PBK….
    a. apakah jlh setoran pajak tsb dikelompokkan sbg PPh ps 25 yg telah disetor ? apakah boleh dlm lap SPT tahunan sy isi sbg jumlah pajak PPh ps 25 yg sdh sy setor ?
    b. bgmn dgn omset penjualannya utk bln juli & agt …apakah dikelompokkan sbg omset perhitungan norma atau sbg omset PPh Final 1% ?
    c. bila omset sales tsb termasuk kelompok PPh Final…apakah sy hrs setor lg atas PPh finalnya utk bl jul & agt tsb mengingat yg sdh disetor = PPh ps 25 dan tdk lakukan PBK ?
    d. bila sy hrs setor PPh final bl jul & agt tsb saat ini…apakah nanti sy dikenakan denda ? utk setoran SSP uraiannya perlu ditulis utk bl jul – agt ?
    2. apakah bung dwi mempunyai contoh cara isi SPT tahunan 1770 yg mana ada PPh Norma & Finalnya ?
    Terima kasih sebelumnya atas website bung dwi…yg membantu sekali ini….

    salam,
    Amin

    Reply
    • Dwi Utomo
      Dwi Utomo says:

      Sore bang Amin

      1. Boleh pak, maka nanti sebagai kredit pajak juga, tapi kewajiban setor 1% tetep ada jadi dua kali setor untuk juli-aug ya PPh 25 (yg terlanjur) juga 1%-nya
      2. masuk di omset perhitungan PPh final 1%
      3. Iya, liat poin 1 lagi
      4. tidak ada sanksi telat setor khusus juli-des 13, setornya 1 SSP untuk 1 bulan
      5. disini mungkin ya pak

      Semoga membantu

      Reply
      • amin
        amin says:

        Terima kasih bung dwi…atas jawaban / pencerahannya…ada 1 pertanyaan sambungan yakni bila atas pajak final bl juli & agt 2013 yg disetor tsb per bln ini…..apakah perlu dilaporkan ke KPP ? trims atas bantuannya.

        Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan komentar Anda disini..