Cerpen Pajak: “Siang Itu…”

Pukul satu siang itu, udara kota ini sungguh panas luar biasa. Matahari sudah condong ke barat, namun derajat kemiringannya tidak terlalu signifikan untuk menggelincirkannya ke balik gunung. Jalanan tampak mengeluarkan bayang-bayang asap seperti sedang menguapkan aspalnya. Lengang. Sesekali melintas mobil dengan kecepatan tinggi. Kadang pula lewat motor ojek yang pengemudinya menolah-noleh kanan-kiri menyelusupkan matanya ke lorong-lorong gang mencari penumpang.
Nihil, semua orang sedang berteduh di rumahnya, dibuai dinginnya penyejuk ruangan yang diatur pada suhu serendah mungkin. Atau bagi masyarakat lain yang berkeberatan membayar iuran listrik bulanan, cukuplah hanya ditemani kipas angin yang berputar-putar bergeleng-geleng dengan suara berisik yang mengganggu. Suara dengung yang lama-lama menjadi senandung nina bobo pengantar menuju mimpi majikan di tengah hari.

Ada yang salah dengan hari ini, matahari terlalu terik menyinari. Entah kemana pula mendung-mendung yang biasanya memayungi. Walaupun aku juga sudah bisa menebak, bahwa mereka pasti akan datang sore nanti. Sejak beberapa tahun lalu aku menginjakkan kaki di kota ini, polanya memang begitu. Jika siang hari ini panas terik, sore nanti atau paling telat malam nanti, hujan pasti turun dengan derasnya. Teori bodohku ini rupanya tak terlalu buruk. Aku pernah membaca sebuah berita di koran lokal yang  menyebutkan bahwa kota ini memang tak mengenal musim penghujan maupun kemarau. Jadi, kalau panas ya panas saja, lalu jika tiba-tiba mau hujan, ya monggo terserah. Itu di luar kewenangan badan meteorologi, klimatologi dan geofisika. Pernah juga aku ikut menengok peta di internet sebelum handphone cinaku yang agak canggih itu hilang, bahwa kota ini tak terlihat lebih besar daripada area hutan yang terpaksa tergunduli menjadi area pembuangan limbah tambang itu. Wajarlah kalau cuaca menjadi tak jelas seperti ini.

Kemarin seharian hujan, lalu malamnya menjadi cerah penuh bintang ketika aku menemani anakku untuk mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah). Ya, dalam artian sebenarnya, aku hanya menemaninya sambil menonton televisi. Dan memang anakku sudah paham dengan tabiat bapaknya yang pandir ini, sudah tak akan lagi dia bertanya-tanya meminta diajari tentang mata pelajaran di sekolahnya yang memang sulit-sulit itu. Berbeda dengan zaman sekolahku dahulu.

“Yah, tadi kata bu guru, negara kita itu kaya.” Sambil membolak-balik buku entah apa itu anakku mencoba merekonstruksi apa saja yang dialaminya siang tadi.

“Negara kita kaya karena daerahnya luas, terus punya kekayaan alam yang juga melimpah, banyak tambang batu bara, minyak bumi dan lain-lain, Yah.” Sambungnya lagi.

“Terus?” Sambungku sekenanya. Puntung tembakau ini tinggal satu helaan lagi.

Anakku mulai sibuk memasukkan buku-bukunya yang tebal itu ke dalam tas sekolahnya. Mukanya ditekuk entah karena aku meniupkan asap ke mukanya atau karena jengkel oleh ketidakantusiasanku menanggapi ceritanya.

“Indonesia itu negara kaya, Nak. Tapi besok kamu coba tanya sama ibu gurumu, kenapa sekolahmu yang rusak itu belum diperbaiki, kenapa masih banyak orang susah seperti kita ini, kenapa negara kita masih seperti ini, berhutang sama luar negeri. Tanya juga sama ibu gurumu itu, sampai kapan gunung tambang emas dan tembaga itu akan bertahan untuk tidak habis.”

“Tanya saja sendiri sana, Yah!” Lalu dia merebut remot tv dariku dan mulai mengganti channel berita yang sedang kutonton menjadi acara lawak dan joget-joget.

“Satu lagi, jika memang negara kita kaya, kenapa saudara kita ada yang ingin berpisah dari NKRI. Tanyakan pada bu gurumu itu!” Dan suaraku mulai kalah oleh riuhnya televisi.

Rupanya tetangga sebelah juga menyetel acara yang sama, suara tertawa-tawa dari dua tv, punyaku dan tetanggaku itu menjadikan efek suara stereo yang menyenangkan. Bahagia itu kadang terlalu sederhana.

***

Jalanan masih juga sepi ketika aku berhenti di lampu merah simpang empat itu. Di seberang sana terlihat sebuah kendaraan panser diparkir di pinggir jalan. Beberapa polisi brimob tampak duduk-duduk di sekitarnya. Itu juga pemandangan biasa di kota ini. Tak hanya cuaca saja yang labil, kota diterpa mataharinya yang panas lalu tiba-tiba menjadi dingin diguyur hujan, situasi keamanan pun juga seperti konstan dengan ketidakstabilannya. Ini adalah satu Desember, peringatan ulang tahun sebuah organisasi yang konon kabarnya bermaksud ingin memerdekakan diri. Sebuah hari yang pasti ditandai penting dalam kalender kamtibmas. Kami semua tahu itu, tapi kami tak mau berlama-lama mengkasak-kusukannya. Sebuah bahasan yang dihindari oleh kebanyakan orang, bahkan di warung kopi pun. Ada semacam keengganan yang menyeruak untuk membicarakannya. “Sssttt….” Itulah bisikan rekan lain jika obrolan mulai menyerempet tentang hal itu.

Kesimpulan dari diskusi yang tak jadi terlaksana itu biasanya hanya sebatas himbauan klise. Harus selalu waspada. Jangan berkeliaran malam-malam. Khusus untuk besok tanggal satu, tidak usah keluar rumah jika tidak perlu-perlu amat. Yang ketiga ini yang tidak bisa kupatuhi, aku harus bekerja. Lalu kesimpulan lainnya yang bisa kutarik sendiri dan belum berubah sejak pertama kali aku memikirkannya beberapa tahun lalu itu adalah bahwa kondisi ketidakpastian ini digerakkan oleh suatu hal yang mereka sebut sebagai ketidakadilan. Ketidakadilan yang mungkin menurut mereka hanya bisa selesai jika mereka telah berhasil keluar dari bingkai kesatuan.

***

Seorang ibu menghentikan tukang ojek yang tanpa dihentikan pun sebenarnya dia ingin berhenti sendiri untuk menawarkan jasanya itu.

“Kemana, Bu?” tanyaku dengan ramah sambil mempersilakan dia untuk mengenakan helm. Bodoh-bodoh begini, aku selalu tertib lalu lintas.

“Ke Kantor Pos ya, Mas.” Jawab si-Ibu dengan nada ramah. Hal-hal beginilah yang bisa menjadi hiburan bagi kaum kelas bawah. Kehidupan memang keras, tapi kami masih merindukan disambut dengan ramah tamah. Sekedar senyum pelanggan dan obrolan ringannya kami jadikan penurun panas agar otak-otak kami tak mencair oleh terik matahari yang masih menggila ini.

“Mau kirim surat, Bu? Memangnya masih zaman ya surat-suratan?” Sikap sok tau itu kadang diperlukan juga untuk memperpanjang obrolan.

“Enggak, mau bayar pajak.” Jawab si ibu sambil merangsek punggungku sebab aku mengerem mendadak karena melihat jalanan berlubang di depan.

“Saya jadi ingat juga nih belum bayar pajak motor ini.” Sambungku lagi sambil menyiapkan hati apabila si ibu pada akhirnya nanti akan diam saja sebagai tanda tak peduli. Sebenarnya bukan tak ingat, aku memang sengaja belum bayar pajak kendaraan motorku ini. Motor butut, dipakai sendiri dan tak akan laku dijual. Buat apa tertib pajak. Toh katanya pak polisi juga tidak boleh menilang motor yang pajaknya telat.

“Di Samsat ya, Mas? Beda sama saya, saya mau bayar pajak penghasilan.” Ternyata ibu itu masih mau menimpali dengan ramah.

“Iya, lha Ibu kok di kantor pos, bu, bayarnya? Bukan di kantor pajak ya?”

Lalu ibu itu bercerita banyak hal, tentunya dengan agak berteriak agar suaranya dapat didengar mengalahkan gemuruh angin. Bahwa bayar pajak itu bukan di kantor pajak, bahwa uang pajak itu untuk pembangunan, bahwa negara kita masih banyak memerlukan dana untuk menciptakan kestabilan dan menciptakan keadilan. Aku menambahkan “untuk memperbaiki sekolah dan membangun jalan,” dan ibu itu mengiyakan. Aku terpesona oleh kalimat-kalimatnya yang menyejukkan serta memberi harapan. Walaupun lalu aku tersentak oleh getaran motorku yang menerjang jalanan yang lagi-lagi berlubang.

Tiba di kantor pos, Ibu itu turun. Sudah terbayang jika aku jalan terus, satu kelokan lagi aku akan sampai di pangkalan. Bangku panjang di bawah pohon kersen telah menantiku untuk diantarnya menuju mimpi siang bolong yang dalam. Tapi tidak untuk kali ini. Aku memutar arah motorku menuju ke sekolah anakku. Aku ingin segera memberitahu dia bahwa negara ini masih punya harapan. Jika bunga hutang akan sangat menyiksa generasi mendatang dan berjualan sumber daya alam akan tiba habis masanya, dengan pajaklah negara ini akan berdiri di atas kaki sendiri menantang masa depan.

*******

Untuk mengisi kekosongan posting selama Pak Dwi Utomo sedang berlibur, dan juga untuk intermeszzo agar sesekali blog ini bisa agak santai gak serius-serius amat, 🙂 , perkenankan saya menampilkan sebuah cerita pendek. Cerpen ini terpilih menjadi pemenang pada “Sayembara Mengarang Cerpen Pajak” di Inside Tax edisi 17 dan dimuat pada majalah Inside Tax edisi 19. Pembaca yang berminat, dapat berlangganan majalah ini atau bisa juga mendownloadnya pada Link Inside Tax.

Juga telah saya tampilkan di blog pribadi saya, blog yang lagi-lagi santai, tidak seperti amsyong.com ini. Hehehehe. Numpang promo ya pak Dwi, barangkali ada yang mau mampir ke blog saya, silakan menuju irfanhaa.com . Silakan, semoga berkenan.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *