Selamat sore pembaca sekalian. Selamat tahun baru 2017 semoga di tahun ini dapat mencapai target yang meleset di tahun lalu. Setelah tanggal 1 dan 2 libur, tanggal 2 libur papua ya, waktunya kembali bekerja. Sebelum mulai bekerja rapikan dulu meja kerja dan arsipkan berkas-berkas yang sudah tidak digunakan ke lemari arsip, biar meja kerja lebih lega dan semangat kerja terjaga.

Cukup pengantarnya, masuk topik bahasan. Kali ini saya sampaikan panduan untuk mengisi SPT Tahunan PPh OP 2016 khususnya pada materi isian daftar harta terlebih lagi untuk WP yang sudah ikutan TA pada periode I & 2 kemarin. Pada SPT Tahunan PPh OP baik formulir 1770 dan 1770S tidaklah sulit untuk mengisi daftar harta karena kolom pada tabel harta hanya terdiri dari Nomor, Kode Harta, Nama Harta, Harga Perolehan, Tahun Perolehan dan Keterangan. Kalo memang mudah ngisinya terus buat apa saya bahas ini? Buang-buang waktu aja. Ya buat yang belum tahu kan bisa belajar 😀

Apa saja harta yang harus disampikan di SPT Tahunan?

Harta yang disampaikan di SPT adalah harta usaha dan harta non usaha, dapat dipilah jika harta berupa mesin fotokopi bisa dikategorikan harta usaha jika memang digunakan untuk jasa penggandaan dokumen, sedangkan emas batangan sebagai simpanan bisa dikategorikan harta non usaha. Apakah harta tambahan pada SPH juga disampaikan lagi di SPT Tahunan PPh 2016? Jawabannya tentu saja, sehingga ada 3 bagian harta pada SPT Tahunan PPh 2016 yaitu

  • Harta pada SPT tahun terakhir sebelumnya dalam hal ini misal 2015
  • Harta yang diperoleh sepanjang tahun 2016
  • dan harta pada SPH terakhir jika WP ikut TA.

Bagaimana menentukan nilai pada daftar isian harta?

Pada SPT nilai yang dicantumkan adalah harga perolehan. Harga perolehan menurut Pasal 10 UU PPh:

  • Jika harta diperoleh karena jual beli, maka harga perolehannya adalah jumlah yang sesungguhnya dikeluarkan atau diterima, termasuk jika adalam jual beli ada hubungan istimewa dan harga perolehan dibawah atau diatas harga pasar maka nilai yang dicantumkan di SPT adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima alias cantumkan harga pasar saja.
  • Nilai perolehan atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.
  • Nilai perolehan atas pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau pengambilalihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar.
  • Apabila terjadi pengalihan harta, harga perolehannya adalah nilai sisa buku dari pihak yang melakukan pengalihan atau nilai yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak atau nilai pasar.
  • Jika harta berupa Persediaan dan pemakaian persediaan, untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama

Kondisi berbeda pada saat WP ikut amnesti pajak, nilai harta yang disampaikan pada Surat Pernyataan Harta (SPH) adalah nilai wajar per 31/12/2015, nilai wajar kurang lebih mencerminkan nilai pasar karena yang diminta adalah nilai sesuai kondisi harta saat itu. Sehingga harga perolehan atas harta TA yang dilaporkan di SPT 2016 adalah harga wajar sesuai SPH juga.

Apa itu kode harta?

Kode harta adalah kode referensi untuk administrasi data, kode referensi harta dan utang untuk SPT Tahunan PPh dan SPH adalah sama. Kode harta antara lain:

Kas dan Setara Kas:
011 : uang tunai
012 : tabungan
013 : giro
014 : deposito
019 : setara kas lainnya

Piutang:
021 : piutang
022 : piutang afiliasi (piutang kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa)
029 : piutang lainnya
Investasi:
031 : saham yang dibeli untuk dijual kembali
032 : saham
033 : obligasi perusahaan
034 : obligasi pemerintah Indonesia (Obligasi Ritel Indonesia atau ORI, surat berharga syariah negara, dll)
035 : surat utang lainnya
036 : reksadana
037 : Instrumen derivatif (right, warran, kontrak berjangka, opsi, dll)
038 : penyertaan modal dalam perusahaan lain yang tidak atas saham meliputi penyertaan modal pada
CV, Firma, dan sejenisnya
039 : Investasi lainnya
Alat Transportasi:
041 : sepeda
042 : sepeda motor
043 : mobil
049 : alat transportasi lainnya
Harta Bergerak Lainnya:
051 : logam mulia (emas batangan, emas perhiasan, platina batangan, platina perhiasan, logam mulia
lainnya)
052 : batu mulia (intan, berlian, batu mulia lainnya)
053 : barang-barang seni dan antik (barang-barang seni, barang-barang antik)
054 : kapal pesiar, pesawat terbang, helikopter, jetski, peralatan olahraga khusus
055 : peralatan elektronik, furnitur
059 : harta bergerak lainnya
Harta Tidak Bergerak
061 : tanah dan/atau bangunan untuk tempat tinggal.
062 : tanah dan/atau bangunan untuk usaha (toko, pabrik, gudang, dan sejenisnya)
063 : tanah atau lahan untuk usaha (lahan pertanian, perkebunan, perikanan darat, dan sejenisnya)
069 : harta tidak bergerak lainnya

Secara teknis cara pengisian SPT dan lampiran-lampirannya sudah dibuatkan buku panduannya, memang  agak tebal (42 halaman) dan tidak semua elemen SPT harus diisi dan dilengkapi. Kali ini saya hanya soroti pada isian daftar harta dan utang saja.

Bagaimana cara pengisian nama harta?

Demi keseragaman pengisian nama harta, sudah ada di buku petunjuk pengisian SPT dengan mengelompokkannya sebagai berikut:

  • Tanah (cantumkan lokasi dan luas tanah);
  • Bangunan (cantumkan lokasi dan luas bangunan);
  • Kendaraan bermotor, mobil, sepeda motor (cantumkan merek dan tahun pembuatannya);
  • Kapal pesiar, pesawat terbang, helikopter, jetski, peralatan olah raga khusus, dan sejenisnya (cantumkan merek/jenis dan tahun pembuatannya);
  • Uang Tunai Rupiah, Valuta Asing sepadan US Dollar;
  • Simpanan termasuk tabungan dan deposito di Bank Dalam dan Luar Negeri (cantumkan nama bank untuk setiap rekening simpanan),
  • Piutang (cantumkan identitas pihak yang menerima);
  • Efek-efek (saham, obligasi, commercial paper, dan sebagainya) (cantumkan nama penerbit);
  • Keanggotaan perkumpulan eksklusif (keanggotaan golf, time sharing dan sejenisnya) (cantumkan nama perkumpulan);
  • Penyertaan modal lainnya dalam perusahaan lain yang tidak atas saham (CV, Firma) (cantumkan nama tempat penyertaan modal);
  • Harta berharga lainnya, misalnya batu permata, logam mulia, dan lukisan.

Cukup mudah bukan, kalo sulit ya ke KPP aja. Jangan tunggu bulan maret, segera aja jika sudah siap data-datanya.