Mengulik Pajak Online Content Creator (Part 1 of 2)

1
630

Dulu sebelum dunia tersentuh jejaring internet, kita lebih akrab dengan media cetak dan elektronik visual. Media cetak antara lain majalah, koran/surat kabar, buletin dll. Media elektonik audio visual yang termahsyur termasyhur yang umum dinikmati adalah televisi dan radio. Saat ini semua media kuno atau konvensional di atas masihlah tetap bisa kita nikmati hingga saat ini, hanya mungkin pangsa pasar penikmatnya tidaklah sebesar dulu karena internet membawa medianya sendiri seperti sosmed, podcast (siaran audio), vlog ataupun blog seperti yang Anda baca saat ini.

Bertambahnya jenis saluran media di atas juga membawa variasi jenis pekerjaan baru bagi pegiat dunia maya. Sebut saja ada podcaster (pembawa acara podcast), youtuber/vlogger, blogger, copywriter, content writer dll. Yang kesemua profesi tersebut bisa kita sebut dengan online content creator atau pembuat konten online/daring.

Pekerjaan jenis baru yang sudah lama muncul ini juga membawa pundi-pundi rupiah jika serius menjalaninya (otokritik ke aye nih). Dan bagi negara aka pemerintah aka DJP aka orang KPP ini juga jadi objek yang harus diawasi dan dibimbing karena setiap penghasilan yang diterima perorangan tentulah jadi objek pajak dan setiap pegiat di dalamnya juga mempunyai kewajiban untuk menghitung sendiri dan menyetorkan pajaknya sesuai ketentuan yang sudah berlaku sejak lama.

Bagaimana Dasar Hukumnya?

Kenapa demikian? Walaupun media bekerja menggunakan internet tetapi pada dasarnya tidak berbeda dengan kreator konten offline/luring, Jika dulu orang nulis cerpen dimuatnya di koran, sekarang cerpen bisa dimuat di blog sendiri, jika dulu TV butuh video dari kontributor sekarang ada youtube yang membolehkan semua unggah video sendiri. Sehingga dari sisi aspek pajakpun tidak berubah karena aturan yang lama (UU KUP, UU PPh dan aturan turunan lainnya) juga berlaku disini. Untuk dasar hukum bisa dilihat di bawah ini.

  • Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP)
  • Pasal 4 Ayat (1), Pasal 23 , Pasal 17 Ayat (2c) UU Nomor 36 TAHUN 2008 (berlaku sejak 1 Januari 2009) tentang perubahan keempat atas UU Nomor 7 TAHUN 1983 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh)
  • PP Nomor 23 TAHUN 2018 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.
  • Perdirjen Pajak Nomor PER-17/PJ/2015 tentang Norma penghitungan penghasilan neto

Apa Ini Apa Itu?

Kali ini saya jabarkan sedikit beberapa istilah dalam bidang pembuatan konten online, tujuannya biar Anda inget dan bagi yang belum tahu bisa agak nyambung. So let’s see.

  1. Kreator: Orang pribadi/badan/lembaga yang memproduksi konten (mengolah dari materi menjadi produk) ditujukan untuk kepentingan sendiri atau atas pesanan pihak lain
  2. Konten: Produk audio, visual, tulisan, aplikasi cloud, theme dll.
  3. Online: Saluran tayang/transmisi dalam jaringan internet
  4. Ads: Iklan dalam jaringan internet
  5. Publisher: Pihak yang menayangkan iklan sehingga dia mendapat kompensasi/keuntungan atas jasa penyangan iklan
  6. Advertiser: Pihak yang menyediakan iklan
  7. ehmm.. apalagi ya..? banyak sih sebenarnya

Bagaimana Kreator Bekerja?

Ini mungkin pertanyaan saya yang salah, maksudnya jika konten kreator itu perorangan/pribadi maka mereka membuat produk bisa jadi untuk dipakai sendiri/pekerjaan bebeas atau dipesan/permintaan pihak lain. Jika atas dasar pemrintaan pihak lain pun perlu dibedakan juga atas dasar kontrak atau karena status kreatornya sebagai pegawai disitu. Secara umum jika kreatornya adalah perseorangan dan pekerja bebas maka ada PP 23/PPh 25 disitu, dan jika kreator berbentuk badan usaha maka ada PPh 23 disitu.

Bersambung… (alur kerja, hitungan sederhana dll)

Disarikan dari resume TKB, kredit pada bagian 2

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.